22

22 is basically the only age you can use as leverage. Meaning that because it’s the exact age between life-as-you-know-it and what will later be known as ‘real life’ (that’s scientifically proven, of course), people expect you to make some mistakes. Mistakes like overcooking a pot-roast or dating someone who may not be right for you. And that’s okay, because heck, you’re just 22.- Shanelle Kaul

Sebenarnya udah beberapa minggu belakangan ini gue mikir ada apa dengan 22. Umur gue juga sekarang 22. Gak tau kenapa ada aja yang gue liat tentang 22. Dari lagunya Taylor Swift, postingan orang-orang di blog yang gue baca akhir-akhir ini, sampai nemu quote di atas itu. Seistimewa itukah 22? Gue makin penasaran.

22. Mungkin karena biasanya di umur 22 tahun ini mahasiswa dan mahasiswi lulus kuliah dan mendapat gelar sarjana. Ini sih sotoynya gue aja. Gue gak generalisasi juga karena kenyataannya ada yang di atas 22 atau di bawah 22 tapi sudah sarjana. Lain lagi masalah pekerjaan. Awalnya dari lulus kuliah lalu mulai meniti karir. Ya di umur 22 juga orang-orang mulai meniti karir dan masuk ke dunia kerja. Ini masalah pendidikan dan karirnya.

Kalau dari lagu Taylor Swift gue merasa lebih ke emosionalnya. “We’re happy, free, confused, and lonely at the same time” dari sini gue merasa ya memang benar itu yang sebagian besar gue rasain di 22 ini bukan di umur-umur sebelumnya. Mungkin karena faktor sudah mau lulus tadi, gue merasa bingung mau jadi apa nanti setelah lulus kuliah. Atau merasa kesepian karena merasa teman-teman gue sibuk masing-masing pada kenyataannya gue pun sibuk dengan dunia gue sendiri dan sahabat gue juga merasakan hal itu.

Quarter Life Crisis. Berasa banget di 22. Bingung, bosen, gak tau mau apa dan harus apa. Semakin terasa. Dari quote di atas, gue merasa ya ini fase yang harus dialamin semua orang. Awal 20-an katanya berat. Fase pergantian dari teenager menuju adult. Young adult. Di 22 lebih bertanggung jawab gak kaya remaja yang kalau melakukan sesuatu gak pikir panjang. Melakukan kesalahan bukan hal yang dilarang, semua orang pernah melakukan kesalahan, yang penting jangan diulangi lagi kalau sudah menyadari kesalahannya dan jadi pelajaran. Setiap orang punya pilihan dan yang paling penting konsekuensi dari pilihan itu yang harus dijalani, jadi kalau merasa salah pilih ya wajar saja. Bebas memilih, bebas menikmati pilihan, dan bebas juga menerima konsekuensi meskipun gak semuanya manis.

Di 22 juga mulai sadar juga kalau gak semua orang itu ‘real’. Makin lama makin keliatan mana teman yang benar teman mana yang cuma ‘teman’. Gak semua orang bisa dipercaya dan benar-benar peduli. Pintar-pintar aja liat kondisi.

Keinget sama omongan orangtua, jadi orang itu harus punya prinsip. Jangan plin-plan. Hari ini ngomong A besok ngomong B. Semakin dewasa ya memang sudah seharusnya punya prinsip, jangan cuma punya tapi harus dipegang terus. Di 22 juga terbukti kalau prinsip itu penting. Mana yang harus dipertahankan dan mana yang tidak. Mungkin selama ini gue mempertahankan hal yang salah.

Inilah 22. Inilah hidup yang sesungguhnya. Suka gak suka mau gak mau semua fase harus dijalanin. Belajar aja untuk terus lebih baik lagi.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: