Lagi-lagi Tentang Seksisme

Kalau kalian berpikiran postingan ini tentang seks, kalian salah. Gue pernah menulis tentang seksisme di sini, tapi kok rasanya sebel aja masih banyak banget orang-orang seksis di sekitar gue. Mungkin banyak yang gak bermaksud untuk bersikap seksis karena memang gak sadar maka itu kadang gue berusaha meluruskan supaya orang-orang sekitar gue gak seksis, walaupun susah.

Jadi buat yang belum tau apa itu seksisme? Seksisme menurut Merriam-Webster adalah perlakuan yang tidak setara karena perbedaan gender atau simpelnya diskriminasi gender. Sadar gak kadang suka bilang, “Cowok kok nangis? Gak malu?” Atau “Gue kan cewek harusnya jangan kasar sama gue, dong”. Nah, itulah contoh perkataan yang mengandung unsur seksisme. Memang kalau cowok itu gak boleh nangis? Apa bedanya berbuat kasar ke cewek sama ke cowok? Apa karena cowok jadi boleh diperlakukan kasar? Sama aja kok, sama-sama manusia yang harusnya gak diperlakukan dengan kasar. Atau pernyataan yang bilang cowok itu logis dan cewek perasa, cowok sama cewek sama-sama punya logika dan perasaan kok gak cuma punya salah satu. Wajar kok cowok nangis gak ada yang salah, manusiawi. Suka sebel dengernya kalo masih aja ada yang beranggapan semua cowok pake logika dan semua cewek cuma pakai perasaan. Itu stereotype.

Ada lagi yang bilang udah kodratnya cewek itu bisa masak kalo cowok itu manjat pohon, contohnya gitu. Apa sih kodrat? Kodrat itu ya sesuatu yang biologis. Memang bisa masak dan manjat pohon itu sesuatu yang bersifat bilogis? Bisa dipelajari, loh. Manusia itu dilahirkan dua kali, pertama secara biologis dari rahim ibunya dan kedua secara sosial, dilahirkan dari rahim masyarakat. Masyarakatlah yang membentuk stereotype-stereotype laki-laki dan perempuan dan akhirnya jadi semacam aturan baku padahal kan tidak seperti itu.

Gue terlahir dari suku yang mempunyai budaya patriarki yang sangat kuat dan gue gak suka. Buat yang belum tahu apa itu patriarki, patriarki itu sistem sosial yang memposisikan laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Kalau kata dosen feminisme gue patriarki itu gak cuma merugikan perempuan, tetapi juga laki-laki. Contoh, kalau misal perempuan dan laki-laki makan atau nonton, lalu karena aturan dari patriarki maka si laki-lakinya yang harus membayar gak peduli gimanapun keadaannya. Padahal kalau diliat lagi itu merugikan laki-laki, kan. Atau laki-laki dituntut untuk bisa memanjat pohon, memperbaiki genteng bocor, mengendarai kendaraan dan sebagainya, kalau laki-laki suka hal-hal domestik dianggap ‘kelainan’. Banyaklah contoh lain yang merugikan gak cuma dari perempuan tapi juga dari laki-laki.

Ada lagi seksisme di masalah pekerjaan. Karena ada stigma-stigma tertentu, perempuan jadi susah buat jadi pemimpin karena katanya pemimpin itu seharusnya laki-laki. Duh, kesian banget dong perempuan kalau dia berpotensi tapi terganjal karena gendernya. Ada lagi tadi gue liat pernyataan yang kira-kira seperti ini: “Perempuan itu terbuat dari tulang rusuk, jadi jangan jadikan tulang punggung”. Gue sih kurang setuju sama pernyataan ini karena menurut gue, mau dia laki-laki atau dia perempuan ya harusnya jadi tulang punggung untuk dirinya sendiri. Jaman sekarang, perempuan udah dapat pendidikan dan dengan modal pendidikan itu mereka bisa kerja dan menghidupi diri sendiri, beda dengan jaman dulu perempuan gak dapat pendidikan dan gak bisa bekerja di luar sehingga harus bergantung ke suami. Tapi ya balik ke diri masing-masing, sih. Mungkin beda orang beda belief juga.

Udah tau kan apa itu seksisme? Coba deh belajar untuk mengurangi tindakan-tindakan seksisme. Gue juga pelan-pelan belajar untuk tidak seksis, karena memang akar patriarki itu kuat sekali jadi kadang masih susah. Postingan ini dibuat sekali lagi karena kegregetan gue yang tidak tertahankan tapi gak tau mau berbuat apa haha.

Tagged: , , , , , , , , , ,

9 thoughts on “Lagi-lagi Tentang Seksisme

  1. Wangga Kharisnu May 19, 2014 at 12:25 PM Reply

    Berat yaa postingan kak Ica kali ini. Hehe

    Gue baru denger ada yang namanya istilah seksisme. Awalnya, gue kira hal ini berhubungan dengan paedofil atau urusan seks lainnya, ternyata bukan.

    Memang benar, urusan gender masih menjadi salah satu problem di Indonesia. Mau bagaimana lagi, warisan nenek moyang dahulu seperti itu. Tapi kalo udah ngerasa nggak bagus efeknya, seksisme ini perlu dikikis biar mantep.

    Gitu.

    • Khairunnisa Siregar May 19, 2014 at 12:34 PM Reply

      Iya memang, Ngga masih banyak yg belum sadar masalah seksisme ini soalnya patriarki itu udah mengakar banget di kehidupan kita jadi ya agak susah sih. Makanya itu menurut gue pelan-pelan coba diubah pola pikir patriarkinya biar bisa dikikis deh si seksisme ini😀

  2. Joe Ismail May 19, 2014 at 3:30 PM Reply

    berarti emansipasi termasuk mengurangi seksisme ya?

    • Khairunnisa Siregar May 19, 2014 at 6:03 PM Reply

      Iya seharusnya begitu, karena laki-laki sama perempuan kan katanya sekarang setara harusnya sih gak seksis

  3. Zegaisme May 19, 2014 at 7:39 PM Reply

    ah bener nih kak. padahal kan di cowok juga ada airmata. trus masak dianggurin gitu aja? boleh dong dikeluarin sekali2.
    gua cowok dan bisa masak. dikit2 lah. tapi ya gua tetap berharap sih ntar istri gua bisa masak. walaupun memang gak harus, tapi ya rasanya udah kewajiban istri lah ngelakuin itu.
    komentar gua ini seksis gak, kak?

    • Khairunnisa Siregar May 19, 2014 at 7:44 PM Reply

      Boleh dong manusiawi kok man nangis. Sebenernya masak kewajiban istri itu gak mutlak sih tp kalo dua duanya sepakat buat istri yg masak ya gpp. Suaminya mau masak sekali sekali jg gak salah kok man.

  4. Aditya May 20, 2014 at 8:38 AM Reply

    Iya, kalo soal nangis itu gak mesti cewek dan yang bayarin gak mesti cowok.
    Gue setuju kalo cewek juga harus punya kesempatan yang sama untuk bisa jadi pemimpin. Tapi, laki-laki mau gak mau harus punya jiwa pemimpin.
    Dan, tolong, untuk beberapa hal cewek jangan minta diperlakukan sama kek cowok. Kan, rasanya gimana gitu kalo harus bersebelahan dengan kalian pas pipis di toilet.hehe

    • Khairunnisa Siregar May 20, 2014 at 8:57 AM Reply

      Gue gak bilang sama, setara. Setara kan beda dengan ‘sama’. Kalo masalah pipis yakali disatuin gak gitu juga dit haha

  5. Wisesa Wirayuda May 11, 2015 at 11:52 PM Reply

    Suka sekali dengan kalimat “manusia itu dilahirkan dua kali”😀 ada sumber tentang statement ini kah? saya dengan senang hati ingin membacanya..

    Hal seperti ini banyak dibahas oleh aktivis perempuan… tapi bayak perempuan2 di indonesia yang mengakunya “aktivis perempuan” pun mereka masih mengagung2kan laki-laki…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: