A Long Way to be A Bachelor of Humanities

I really can’t hide that I’m too happy to realize that my thesis advisor allow my thesis to the court. Pagi kemarin gue bangun dengan keadaan sangat tidak menyenangkan. Badan hampir rontok, batuk pilek, radang tenggorokan, demam, gusi bengkak karena geraham bungsu sedang tumbuh, dan suara (hampir) hilang. Gue tentu tidak lupa kalau tanggal 16 Juni 2014 kemarin adalah deadline pengumpulan skripsi. Pagi itu dengan keadaan babak belur gue mandi dan langsung mencari tempat fotocopy yang sudah buka untuk menggandakan skripsi gue sebanyak 4 rangkap. FYI, gue sedang tidak di rumah karena malam sebelumnya ada event kantor sehingga gue menginap di kosan teman kantor gue.

Setelah jalan cukup jauh akhirnya ada tempat fotocopy yang buka jam 7 pagi. Gue langsung memfotocopy dan berniat mengeprint beberapa halaman berwarna. Mungkin tidak akan seru kalau cerita ini tidak ada dramanya. Drama pertama pagi itu file skripsi gue tidak terbaca di komputer tempat fotocopy sehingga gue panik. Tapi akhirnya halaman berwarna itu bisa difotocopy warna jadi gue gak perlu mengeprint dari file skripsi. Gue pikir udah aman dong proses fotocopy skripsi gue, ternyata tidak. Skripsi gue diharuskan dicetak di kertas A4 80gram, tapi yang terjadi adalah tempat fotocopy tersebut kehabisan kertas A4 80gram sehingga gue harus menunggu toko kertas sebelahnya buka.

Jam 9 toko kertas buka, skripsi gue langsung bisa dikerjakan dan tepat jam setengah 10 skripsi gue sudah lengkap dirangkap 4. Gue yang memang sudah janjian bareng ke kampus sama teman gue, Mahar, langsung menuju tempat janjian. Waktu gue nunggu Mahar datang tiba-tiba gue menerima Line dari Yanto yang memberitahu kalau hari itu juga semua yang akan mengumpulkan skripsi harus menyertakan transkrip nilai dan fotocopy buku bimbingan. Gue kembali panik dan ketika gue akan mengeprint transkrip nilai di rumah Mahar, gue mendapat kabar lagi kalau transkrip nilai tersebut bisa dikumpul hari Rabu. Duh.

Setelah drama-drama tersebut terlewati gue dan Mahar akhirnya menuju kampus. Jam setengah 12 gue bertemu dengan pembimbing skripsi gue, Bu Ira. Gue agak deg-degan karena Bu Ira ini orang yang sangat tegas dan beberapa kali gue kena marah karena hasil kerja gue tidak sesuai harapan beliau. Berhubung hari ini deadline skripsi maka keputusan skripsi gue layak sidang atau tidak tergantung dari pembimbing gue.

Gue masuk ruangan Beliau dan Beliau meminta skripsi gue sembari mempersilakan gue duduk. Lalu Beliau meriksa skripsi gue dan seperti biasa, teliti. Beliau menanyakan tambahan-tambahan yang harus gue tambahkan seperti yang Beliau minta di bimbingan terakhir. Setelah selesai memeriksa skripsi gue Beliau bilang, “Ya udah ya bagus skripsi kamu, Khairunnisa. Saya salut sama kamu bisa berproses seperti ini. Berarti selama ini kamu dengerin apa yang saya bilang. Saya acc langsung ya”. Saat itu juga gue mau nangis hahaha lebay kali ya tapi gue bener-bener seneng karena usaha gue gak sia-sia. Pembimbing gue ini kalau bagus ya bilang bagus kalau jelek ya bilang jelek. Selama ini gue revisi berkali-kali dan di akhir ketika Beliau bilang kaya gitu jelas aja gue seneng banget.

Setelah skripsi gue diacc dan gue mau keluar ruangannya, tiba-tiba Beliau bangun dari kursinya. “Selamat dulu dong. Kamu berhasil. Sukses di sidangnya ya, Khairunnisa” dan Beliau juga merangkul gue dan cipika cipiki. Asli gue gak pernah membayangkan akan seperti ini. Rasanya nyesss banget. Bener sih kata-kata yang sering Beliau bilang, selalu ada harga yang harus dibayar. Mungkin ini salah satu harga yang udah gue bayar. Seminggu terakhir gue beberapa malem bener-bener gak tidur demi revisi-revisi sampe gue sakit. Di hari Minggu, gue masih tetap menjalankan kewajiban dari kantor dan dalam keadaan tidak enak badan. Capek banget tapi ketika gue mendapat respon seperti itu dari Beliau rasanya semua terbayar. Terimakasih atas bimbingannya, Bu. Ini semua baru permulaan karena gue baru akan sidang sekitar dua minggu lagi. Semoga sidang gue lancar dan semoga hasil sidang gue memuaskan. Amiin!

 

20140616-215027-78627020.jpg

Tagged: , , , , , , , , , ,

8 thoughts on “A Long Way to be A Bachelor of Humanities

  1. Indira Ramadhita June 17, 2014 at 10:05 PM Reply

    Hai~ Aku punya sesuatu buat kamu. Jika berkenan, silakan kunjungi: http://indiraramadhita.blogspot.com/2014/06/the-liebster-award.html terimakasih..🙂

  2. fadillahnura June 18, 2014 at 7:45 AM Reply

    Perjuangan besar itu demi kelulusan. Semangat, kakca! Lancar. Aamin.

    • Khairunnisa Siregar June 18, 2014 at 11:57 AM Reply

      Amiin amiin. Makasih dila. Kamu juga semoga dapet SMA yg kamu mau ya.

  3. Wangga Kharisnu June 21, 2014 at 6:33 AM Reply

    Aaaaaaaak udah skirpsian aja. Bentar lagi sidang nih. Ciyeeee. Mangat kak Ica!

  4. Winda Huhul June 21, 2014 at 2:36 PM Reply

    aakk congrats caa, doain aku ya😀
    apa kabar anak KK? ah.. kangenn😦

    • Khairunnisa Siregar June 22, 2014 at 7:34 PM Reply

      Makasih win. Ayo semangat semangat taun ini kita harus lulus. Rame seperti biasa win, cepat kembali dong makanya😀

  5. […] payah menyelesaikan skripsi dan mengumpulkan di pertengahan Juni seperti yang gue ceritakan di sini, seminggu kemudian jadwal sidang diumumkan. Gue dan teman-teman dekat gue mendapat hari sidang yang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: