Perihal Pengurangan Jam Kerja Perempuan

Harusnya hari ini gue mempost review-review yang mulai menumpuk, tapi karena kegundahan karena isu-isu yang dua hari ini bersliweran jadi gue putuskan untuk kembali mempending review-review itu. Buat yang belum tahu, dua hari ini ada sedikit kehebohan karena pernyataan Bapak Wapres yang mengusulkan pengurangan jam kerja perempuan. Kenapa heboh? Jadi Bapak Wapres berpendapat bahwa perempuan aktif bekerja itu kekurangan waktu untuk mendidik anak yang merupakan calon penerus bangsa, jadilah isu pengurangan jam kerja ini dikeluarkan.

Lalu kenapa gue jadi gundah? Ya jelaslah gue gundah karena gue perempuan, gue kerja, dan menurut gue pengurangan jam kerja ini merugikan. Pertama, pengurangan jam kerja ini tujuan awalnya adalah untuk mendidik anak. Ini jelas banget domestifikasi. Perempuan yang sudah dapat hak sama untuk keluar kerja ditarik kembali ke ranah domestik untuk menyelesaikan ‘tugas’nya sebagai pendidik anak. Memang tugas mendidik anak hanya tugas perempuan? Punya anak itu pilihan dan kemauan kedua belah pihak, bukan cuma perempuan. Lagi-lagi beban ganda dialami perempuan. Sudah bekerja di luar rumah, masih harus punya pekerjaan di dalam rumah.

Lalu masalah kedua, gak semua perempuan punya anak jadi gak make sense kalo peraturan ini dibuat supaya perempuan punya lebih banyak waktu untuk anaknya. Lagipula, memang bakal efektif dipakai untuk mengurus anak? Gimana kalo dipake bukan untuk mengurus anak? Sama aja bohong, dong.

Ketiga, pengurangan jam kerja ini sangat merugikan perempuan di dunia kerja. Perusahaan tentu bakal mikir dua kali untuk merekrut perempuan kalau jam kerjanya lebih sedikit dari laki-laki. Sudah cuti hamil, jam kerja dikurangi, perusahaan akan lebih memilih pegawai laki-laki kalo keadaannya seperti ini. Jelas-jelas ini pembatasan untuk perempuan. Lagi-lagi perempuannya dirugikan, dibatasi pelan-pelan, lalu jadi bergantung lagi sama laki-laki. Kesel sendiri jadinya.

Hal-hal inilah yang menggangu gue. Gue perempuan dan isu pengurangan jam kerja ini akan berimpact ke gue. Perempuan dapat kesempatan kerja di luar itu gak taken for granted. Ada perjuangan panjang untuk dapetin itu semua. Kenapa perempuan jadi terbatas geraknya hanya karena punya anak? Anak itu tanggung jawab dua belah pihak, bukan cuma di perempuan. Eksistensi perempuan ya tergantung diri mereka sendiri, bukan identitas aksen dari suami, ayah, atau anak mereka. Kasian banget perempuan dikenal karena dia adalah istrinya si tuan x, atau anaknya si pak x, atau ibunya si x. Perempuan harus dikenal karena identitasnya sendirilah. Semoga saja, isu ini gak benar-benar direalisasikan. Gak kebayang kalo pengurangan jam kerja ini jadi bikin perempuan-perempuan kehilangan pekerjaan.

 

IMG_9311-0.JPG

Tagged: , , , , ,

12 thoughts on “Perihal Pengurangan Jam Kerja Perempuan

  1. zegaisme November 26, 2014 at 4:07 PM Reply

    loh aku baru tau loh ada isu ini kak. Hahaha. kurang aktif lg nih di sosmed. bener sih, ini seperti mengembalikan perempuan ke tempo dulu

    • Khairunnisa Siregar November 26, 2014 at 8:25 PM Reply

      Baru kemaren wacananya nyebar, Man. Iya, makanya itu kesel kan jadinya.

  2. dani maulana -- SiKarungGoni -- November 27, 2014 at 8:43 AM Reply

    Alhamdulillah akhirnya wanita kembali kepada kodratnya. Tapi yang heran kenapa lo malah jadi kurang seneng yah. Ternyata gaya hidup barat yang mencontohkan wanita lebih baik berkakrir dari pada mengurus keluarga sukses di Indonesia.

    • Khairunnisa Siregar November 27, 2014 at 9:05 AM Reply

      Apa? Kodrat? Kodrat itu sesuatu yg sifatnya biologis. Memang perempuan cuma hidup ngurusin anak itu sifatnya biologis? Anak itu tanggung jawab laki-laki sm perempuan, memang yg mau punya anak perempuannya aja?
      Bukan kurang seneng, gue gak seneng banget. Coba lu baca lagilah alasan gue apa. Lu gak pernah kan mikir dr sisi perempuannya? Gimana gak enaknya gak bebas melakukan sesuatu hanya karena jadi perempuan? Pola pikir patriarki kaya gini nih yg harusnya diilangin.

  3. Puti Ayu Amatullah November 27, 2014 at 4:00 PM Reply

    I know this issue and many people talk about “kesetaraan gender”. Ahya, secara logika dimana perusahaan akan memilih laki-laki karena ini memang betul. Tapi yaah pasti ini bakal dikaji ulang? Pemerintahan sekarang emang demen bikin hal baru. Tenang dulu, jangan terbawa emosi (bukannya dukung bapak JK juga yee). Gue pekerja kreatif dan lebih ke arah berkarya dan pendapat lo cukup membuat gue memikirkan hal ini secara serius ^^

    • Khairunnisa Siregar November 27, 2014 at 4:05 PM Reply

      I hope so. Pak Ahok juga menentang kok beliau berpendapat kalo kaya gini perempuan diremehkan, gue setuju banget sama Pak Ahok. Semoga gak direalisasikan. Yes, gue pun memikirkan hal ini dengan serius. Apapun tentang gender dan perempuan pasti menarik perhatian gue soalnya terlebih masalah ini deket banget di kehidupan gue dan perempuan banyak. Anyway terimakasih udah mampir😀

  4. dewityairwan November 28, 2014 at 9:25 AM Reply

    ada beberapa poin yang saya setuju dengan mbak, jika pengurangan kerja memang lebih baik untuk perempuan dikarnakan mengurus anak saya setuju untuk itu. tapi bisa kita lihat bahwa seorang perempuan yang berkeluarga, pasti akan lebih mementingkan anaknya dan sebisa mungkin orang tua juga berkontribusi bersama dalam mendidik anaknya beda dengan perempuan yang single dan masih harus belajar dan mengejar karir. sejujurnya saya juga nanti jika sudah berkeluarga tidak menampik bahwa saya memerlukan waktu untuk mengurus anak saya.

    • Khairunnisa Siregar November 28, 2014 at 10:35 AM Reply

      Iya, tapi kan gak bisa disamaratakan. Mungkin ada perempuan yg ingin waktu mengurus anak lebih banyak tp ada juga yg gak. Lagipula menurut saya mengurus anak bukan cuma tanggung jawab ibu, tapi ayah juga.

  5. Stacia Priscilla December 1, 2014 at 4:18 AM Reply

    ultimate feminism statement. hehehe *thumbs up*

    • Khairunnisa Siregar December 1, 2014 at 9:54 AM Reply

      Aaaak Stace jadi malu. Still have to learn more nih hihi, thank you anyway😀

  6. hlga December 6, 2014 at 6:04 AM Reply

    ngerasa gundah jadi permpuan ya.
    mungkin pengurangan jam kerjanya harus lebih spsifik lagi kali ya.
    bisa dibebanin ke perpmpuan yang emang udah berumah tangga dan emang punya anak.
    yang muda-muda mah suruh kerja aja daaah

    imho hahaha

    • Khairunnisa Siregar December 6, 2014 at 6:09 AM Reply

      Ngerasa gundah karena gue perempuan mas dan kebijakan kaya gini pasti berimpact juga ke gue. Pemerintah kayanya terlalu jauh ikut campur ke masalah privat perempuan kalo sampe hal kaya gini diatur. Masa perempuannya gak dikasih kebebasan untuk milih mau kerja full time sama kaya laki-laki. Lagipula beban parenting harusnya ditanggung berdua, kan anaknya juga anak berdua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: