TRAVEL: Palembang, Bukan Sekedar Pempek dan Sungai Musi

Beberapa waktu lalu gue berkesempatan mengunjungi ibukota Sumatera Selatan, Palembang. Awalnya gue gak terlalu excited  dengan trip ini karena menurut gue Palembang gak beda jauh sama Jakarta, kota besar yang sudah cukup ramai dan mulai macet. Mengingat gue dan kuliner tidak dapat dipisahkan, jadilah menurut gue hal seru yang bisa gue lakukan di Palembang adalah berburu pempek, makanan khas kota ini.

Karena berburu pempek sudah gue niatkan sebelumnya, jadi di awal kedatangan gue di kota ini adalah makan siang dengan pempek. Rumah makan pempek yang ketiban sial karena kedatangan gue adalah Pempek 888 Taman Kenten yang terletak di Jln. Taman Kenten. Pempek yang gue coba adalah pempek kulit. Sejujurnya gue baru pertama kali makan pempek jenis ini, itu juga karena ditawarkan oleh teman gue. Pempek kulit adalah pempek yang berbahan dasar kulit ikan tenggiri, berbeda dari pempek jenis lainnya yang menggunakan daging ikan. Agak alot dan buat gue lumayan susah dikunyah, tapi tetep aja rasanya enak dan gue menghabiskan beberapa potong sendirian. Hahaha.


Setelah merasa kenyang gue melanjutkan perjalanan mengelilingi tanah Sriwijaya ini. Sejujurnya gue bingung mau ke mana dan seperti yang gue sudah perkirakan, kota ini sudah mulai mengenal macet seperti Jakarta. Siang itu gue bergerak menuju Jembatan Ampera, ikon kota ini, tetapi karena cuaca masih sangat panas gue memutuskan untuk kembali berburu pempek. Hahaha. Tujuan kedua gue adalah Pempek Nony 168. Sebenarnya ada beberapa cabang Pempek Nony seantero Palembang, tetapi karena saat itu yang terdekat adalah Palembang Trade Center (PTC), jadilah gue menuju PTC dan makan di Pempek Nony 168 di lantai dasar PTC. Di sinilah pertama kalinya gue mencoba pempek pistel, pempek yang tidak berbahan dasar ikan tetapi berisi irisan pepaya muda. Rasanya enak dan terasa kriuk-kriuk. Selain pempek pistel, gue juga mencoba pempek lain seperti lenjer, telur, dan adaan.


Mulai sore, gue pun melanjutkan perjalanan seperti yang telah gue rencanakan yaitu melihat Jembatan Ampera. Manusia memang hanya bisa berencana karena di tengah perjalanan gue terjebak macet, maklum saja saat itu sudah pukul 4 sore waktunya orang-orang pulang kerja. Karena jalan ke arah Sungai Musi macet akhirnya gue memutar arah dan melewati jalan-jalan kecil karena rencana yang berubah yaitu menuju Pulau Kemaro. Pulau Kemaro adalah pulau kecil yang terletak di tengah Sungai Musi. Dinamakan Kemaro karena setinggi apapun air Sungai Musi saat pasang, pulau ini tidak akan tenggelam.


Seharusnya, untuk mencapai pulau ini gue menaiki ketek (kapal kecil) di dermaga yang ada di bawah Jembatan Ampera namun karena insiden terjebak macet dan takut kesorean jadilah gue dan teman gue memotong jalan melewati jalan-jalan kecil dan tiba di dermaga yang lebih dekat dari Pulau Kemaro. Hanya sekitar 5 menit menyebrang dengan ketek dari dermaga kecil itu gue sudah bisa menginjakkan kaki di Pulau Kemaro, jauh lebih cepat dibanding lewat jalur air dari Sungai Musi.


Tak hanya menarik karena tidak pernah tenggelam, Pulau Kemaro juga menyimpan legenda yang terkenal seantero Palembang. Dikisahkan dahulu kala ada seorang Pangeran dari Cina yang bernama Tan Bun An jatuh hati dan berniat meminang Putri Kesultanan Palembang, Siti Fatimah. Setelah keduanya setuju akan menikah, dibawalah Siti Fatimah ke daratan Cina untuk bertemu dengan orangtua Tan Bun An. Setelah bertemu dengan kedua orangtua dan mendapat restu, mereka kembali ke Palembang dengan tujuh guci pemberian orangtua Tan Bun An. Sampai di sekitar Sungai Musi Tan Bun An melihat isi guci pemberian orangtuanya. Ketika mengetahui bahwa isi guci tersebut sawi yang sudah membusuk, Tan Bun An segera membuang guci-guci tersebut ke sungai. Lalu saat guci terakhir akan dibuang, guci tersebut jatuh dan pecah, saat itulah Tan Bun An menyadari bahwa sawi tersebut hanya sebagai penutup karena isi guci yang sebenarnya adalah emas. Merasa menyesal, Tan Bun An segera menyelam untuk mengambil kembali emas-emas yang telah dibuangnya diikuti oleh seorang pengawalnya. Lama tak muncul, Siti Fatimah menyelam menyusul calon suaminya tersebut namun ketiga orang tersebut tidak ada yang kembali ke permukaan. Tak lama kemudian, di sekitar tempat menyelam ketiga orang tersebut timbul gundukan tanah yang akhirnya dinamakan Pulau Kemaro.


Di Pulau Kemaro terdapat Pagoda 9 lantai dan Klenteng Hok Tjiong Rio yang kini dijadikan tempat beribadahnya umat Buddha dan kaum Tionghoa dari berbagai daerah, bahkan saat Cap Go Meh masyarakat Tionghoa dari Singapura dan Hongkong juga ke sana. Puas mengelilingi pulau dan berfoto-foto, gue pun kembali ke dermaga.


  

  
Hari mulai sore dan gue kembali lapar. Gue memutuskan untuk mencoba pempek kapal selam di Pempek Candy. Pempek Candy juga termasuk pempek yang cukup terkenal di luar Palembang dan sering dijadikan sebagai oleh-oleh. Pempek Candy juga memiliki banyak cabang yang tersebar di Palembang. Puas mencoba berbagai jenis pempek dari berbagai merk, gue kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar.


Tepat pukul 8 malam, teman gue mengajak keluar karena gue belum jadi mengunjungi Jembatan Ampera yang terkenal itu. Di perjalanan menuju Ampera, gue kembali mencicipi makanan khas kota ini yaitu Martabak HAR. Martabak HAR adalah martabak telur yang tidak seperti martabak telur yang sering kita jumpai. Telur dalam Martabak Har tidak diaduk ke dalam adonan, melainkan dimasak seperti telur mata sapi dan dilapis dengan kulit martabak. Selain itu, yang membuat Martabak ini semakin lezat adalah kuah kari yang disiram di atas martabaknya. Rasa rempah karinya cukup kuat tetapi gak bikin eneg. Setelah kenyang, gue memutuskan berjalan kaki ke Masjid Agung Palembang yang terletak tak jauh dari Martabak HAR. Di depan masjid ini terdapat air mancur yang sering dijadikan objek foto oleh masyarakat sekitar.


Setelah kembali dari air mancur di depan Masjid Agung, gue dan teman gue akhirnya ke tempat tujuan utama kami malam itu: Jembatan Ampera. Meskipun Jembatan Ampera tidak memiliki perbedaan dengan jembatan lain, tetapi rasanya kurang jika ke Palembang tanpa melihat langsung jembatan ini. Ditambah lagi, ketika malam hari lampu di sekitarnya menyala dan membuat semakin indah jika berfoto dengan background jembatan ini. Di dekat Jembatan Ampera terdapat Plasa Benteng Kuto Besak (BKB), plasa ini adalah lapangan luas persis di depan Benteng Kuto Besak dan menghadap langsung ke Sungai Musi. Di plasa ini biasanya masyarakat Palembang berkumpul dengan teman atau keluarga, di plasa ini juga berbagai kegiatan dilaksanakan mulai dari kegiatan olahraga, acara musik, bazar makanan dan pakaian, hingga acara berbau politik.


 Benteng Kuto Besak sendiri adalah benteng yang didirikan jaman pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I untuk menghadapi serangan Belanda. Sampai saat ini benteng tersebut masih tegak berdiri meskipun fungsinya bukan lagi sebagai benteng pertahanan. Di sekitar Benteng Kuto Besak juga terdapat satu tempat yang menarik untuk dikunjungi, Taman Purbakala Sriwijaya. Di sini banyak sekali peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Sayang sekali gue ke sana malam hari, selain tidak dibuka untuk umum agak spooky juga sih. 


Hari semakin malam dan gue juga sudah mulai lelah. Tepat pukul 22:30 gue dan teman gue memutuskan kembali ke hotel. Ternyata Palembang bukan sekedar pempek dan Sungai Musi, masih banyak lagi yang bisa dijelajahi di Palembang ini. Untuk menjelajahi Tanah Sriwijaya ini gue rasa Grand New Veloz adalah kendaraan yang tepat. Meskipun Grand New Veloz merupakan mobil keluarga stylish, tetapi mobil ini juga cocok untuk kalangan muda. Selain memiliki pilihan warna yang beragam dan exterior dan interior yang stylish dan trendy lifestyle, kapasitas mobil ini juga cukup banyak sehingga bisa menampung gue dan teman-teman gue yang berjumlah 6 orang. Tampilan exterior yang stylish dan sporty cocok banget buat dipake keliling kota dengan kondisi jalan yang tidak selalu mulus dan lancar.

grand-new-veloz-1

taken from here

grand avanza veloz8

taken from here

Selain exterior yang keren, interior Grand New Veloz juga gak kalah keren dengan kabin mobil yang luas, perangkat audio di mobil ini juga lengkap. Jadi, gak ada ceritanya mati gaya atau bosan karena macet karena gue bisa mendengarkan musik dari radio, CD, bahkan dari iPod atau smartphone. Sistem audio ini juga bisa dikendalikan dari setir, jadi kalo mesti nyetir sendirian gak perlu khawatir kerepotan mengganti frekuensi radio atau mengecilkan dan mengeraskan volume.

grand-new-veloz-8

taken from here

Di panel speedometer Grand New Veloz juga terdapat Eco Lamp Indicator yang akan menyala jika pedal gas ditekan dengan akselerasi yang lembut atau putaran mesin tidak terlalu tinggi dan konstan. Eco Lamp Indicator membuat berkendara menjadi lebih efisien karena ketika Eco Lamp menyala maka konsumsi bahan bakar akan semakin irit. Selain stylish, Grand New Veloz juga ramah lingkungan kan.

images

taken from here

Selain exterior dan interior stylish, keamanan dan kenyamanan Grand New Aveloz juga tidak perlu diragukan lagi. Grand New Aveloz dilengkapi dengan seatbelt tidak hanya untuk penumpang di depan, namun juga di tengah, dan fitur ABS (Anti Lock Breaking System) yang mengontrol kendaraan saat pengereman mendadak. Stylish, aman, nyaman, dan ramah lingkungan gak heran kan kalo Grand New Veloz cocok banget buat gue dan teman-teman gue keliling-keliling Palembang? Yuk, keliling kota dengan Grand New Veloz!

Banner-1366x490 - 12082015

taken from here

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

3 thoughts on “TRAVEL: Palembang, Bukan Sekedar Pempek dan Sungai Musi

  1. Dita October 26, 2015 at 7:58 AM Reply

    ya ampunnn pagi2 liat gambar pempeeeeek, ngiler seketika deh ini😦

  2. DODY_FREE October 26, 2016 at 11:27 PM Reply

    mbk saya mewakili orang palembang mengucapkan terima kasih telah berkunjung ke kota kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: