TRAVEL: Aceh-Sabang Trip Part 1

Tanggal merah di long weekend? Buat orang-orang yang belum punya cuti macem gue itu sih kesempatan yang gak boleh disia-siakan. Bulan Februari gue udah merencanakan untuk memanfaatkan long weekend ini dan Sabang, kota terbarat Indonesia, menjadi pilihan trip gue kali ini. Awalnya gue kembali mengajak seluruh keluara gue untuk ikut ke Sabang, tetapi kedua orangtua gak tertarik akhirnya gue pergi hanya dengan kedua adik gue, Niar dan Dinda, ditambah adik sepupu gue, Ami.

Kami berniat langsung ke Sabang tanpa ke Banda Aceh dulu, tetapi ternyata hanya Niar dan Dinda yang dapet tiket CGK-SBG, karena mereka gak mau misah jadilah tiket kami semua menjadi CGK-BTJ. Walaupun masih sebulan lagi, bukan Ica namanya kalo gak well-planned. Gue udah mencari-cari penginapan untuk di Sabang sejak sebulan sebelum keberangkatan. Tujuan awal gue ya apalagi selain Iboih Inn, penginapan paling hits seantero Sabang.  Gue telpon langsung ke Iboih Inn dan ternyata kamar inceran gue, Waterfront Villa, full booked. Hanya kamar standard yang jaraknya lumayan jauh ke pantai yang tersisa. Gak dapet di Iboih Inn, gue googling dan menemukan dua penginapan lain yang terkenal di Sabang: Freddie’s Sumur Tiga dan Casanemo Beach Resort yang juga terletak di Sumur Tiga. Gue langsung menghubungi Freddie’s dan lagi-lagi full booked di tanggal 25-27 Maret 2016. Akhirnya gue menghubungi Casanemo, harapan terakhir gue. Gue nelpon Bu Balqis, ownernya Casanemo, dan memang rejeki itu gak pernah tertukar ya pas banget sisa 1 family room di Casanemo untuk 25-27 Maret 2016. Gue langsung booking kamar itu dan transfer dp. Gak cuma itu, Bu Balqis juga membantu mencarikan rental mobil yang gue pake untuk keliling Sabang. Baik bangetlah Bu Balqis ini. Tiket issued, penginapan booked,dan mobil rental aman,  gue udah bisa tidur tenang haha.

Tanggal 25 kami udah di Soetta dari jam 04:30. Urusan bagasi dan check in kelar, kami langsung ke boarding room. Jam 06:45 pesawat yang membawa kami menuju Tanah Rencong take off . Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 jam dan jam 09:25 kami menginjakan kaki di Tanah Rencong. Assalamualaikum, Kota Serambi Mekah! Setelah bagasi diambil, gue dan kedua adik perempuan gue langsung memakai kerudung karena di Aceh kan kental syariat Islamnya dan ini bentuk penghormatan kami terhadap peraturan kota ini.

Karena gue memang gak ada rental mobil untuk di Aceh, akhirnya kami memutuskan naik taksi ke daerah kota dari Bandara Sultan Iskandar Muda. Sebelumnya gue udah bilang kalo tujuan utama kami ke Pelabuhan Ulhee Lhee tetapi kami mau ke Museum Tsunami dan Masjid Raya Baiturrahman dulu. Bang Edi, driver kami itu, membawa kami ke Pemakaman Massal Siron yang sejalur dengan jalan dari bandara ke kota.  Pemakaman Massal Siron ini dibuat untuk memakamkan korban Tsunami Aceh 26 Desember 2004 silam. Dari luar pemakaman ini terlihat seperti taman karena memang gak ada nisan-nisan macem pemakaman pada umumnya. Pemakaman ini diisi tiga lapis, saking banyaknya korban-korban Tsunami Aceh. Sebenarnya ada lagi pemakaman missal di dekat Pelabuhan Ulhee Lhee, tetapi tidak sebesar di Siron.


Kami gak lama di Siron karena harus mengejar kapal ke Sabang. Kami langsung menuju tujuan selanjutnya, Museum Tsunami. Museum ini dirancang oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Di pintu masuk, terdapat helikopter milik polisi yang hancur karena kedahsyatan tsunami.  Di pintu masuk juga terdapat warning bagi siapapun yang masih trauma tsunami sebaiknya jangan masuk museum ini. Memasuki museum ini, kami langsung disambut lorong gelap dan sempit. Gak cuma itu, suara air dan percikan air juga bikin suasana di lorong ini mencekam. Ternyata lorong ini membuat seakan-akan kita lagi di suasana saat tsunami berlangsung. Horor sih, gue aja jalan cepet-cepet. Setelah melewati lorong itu, kami sampai di The Light of God. Bentuknya ruangan melingkar, makin ke atas makin menyempit, dan di temboknya tertulis nama-nama korban Tsunami Aceh 2004. Di bagian atas ruangan ada lafaz “Allah”, menurut info yang gue dapat, filosofi dari ruangan ini adalah Cuma Allah penolong kita dari berbagai bencana atau apapun yang terjadi di hidup kita. Merinding sih. Keluar dari The Light of God, kami menuju ruangan besar yang berisi banyak komputer yang menampilkan dokumentasi peristiwa Tsunami Aceh. Lanjut ke atas, sebelum ke ruangan audio visual, kami melewati jembatan yang di atasnya terdapat bendera-bendera negara-negara yang membantu Aceh untuk pulih pasca Tsunami. Di ruangan audio visual, kami menonton film dokumenter peristiwa Tsunami Aceh. Merindingnya gak kelar-kelar ini, sih. Setelah nonton film, kami ke galeri yang isinya foto-foto pra dan pasca tsunami. Dahsyat banget memang Tsunami Aceh itu, berawal dari gempa 9,8 SR gak lama kemudian air laut naik ke permukaan langsung menghantam apapun yang ada.



  
  
 Setelah melihat kedahsyatan Tsunami Aceh di Museum Tsunami, kami langsung bergerak ke Museum Kapal PLTD Apung 1 yang juga jadi saksi bisu kedahsyatan Tsunami Aceh. Sayang sekali, museum baru buka jam 14:00 karena hari itu hari Jumat. Niat solat di Masjid Baiturrahman juga sirna karena lagi ada renovasi dan menurut Bang Edi, masjid ditutup. Agak aneh sih sebenarnya. Akhirnya kami langsung menuju Pelabuhan Ulhee Lhee dan sampe jam 11:30. Loket tiket belum dibuka, akhirnya kami harus nunggu sampai loket dibuka setelah Jumatan sekitar 13:30. Ami langsung menuju Masjid Baiturrohim yang gak jauh dari pelabuhan untuk Solat Jumat dan gue menunggu loket buka bersama dua adik perempuan gue. Kapal dari Pelabuhan Ulhee Lhee- Balohan dan sebaliknya sbeenarnya ada dua: Kapal Cepat Express Bahari dan Kapal Lambat KM Roro. Karena waktu itu kapal cepat ada di jam 15:30, akhirnya kami memutuskan naik kapal lambat di jam 13:30.

Sepertinya tiap ­ngetrip pasti ada dramanya masing-masing, kali ini gue kembali berhadapan dengan drama tiket. Kedua adik perempuan gue yang sotoy tiba-tiba bilang mau Solat Zuhur di jam 12:30 dan gak lama setelah mereka cabut, loket tiket dibuka. Gue panik karena udah banyak yang antri, bahkan rombongan keluarga sebelah gue udah dapet tiket, dan gak ada yang jagain koper kalo gue antri tiket. Gue line Ami, ternyata azan Zuhur di Aceh 12:50 dan tentu saja jam segitu Jumatan belum mulai. Gue kesel banget sama Niar dan Dinda yang sotoy solat jam segitu. Karena panik dan gak bisa banget tenang kalo rencana gak sesuai eksekusinya, gue langsung antri aja. Waktu gue antri, dua adik gue akhirnya muncul. Akhirnya gue dapet 4 tiket kapal lambat dan satu persatu penumpang naik ke kapal. Jam 13:30 belum ada tanda-tanda Ami selesai Jumatan. Gue udah menyuruh kedua adik gue untuk naik ke kapal duluan. Gue memutuskan untuk menunggu Ami di depan gerbang menuju kapal, karena udah mulai sepi akhirnya gue makin panik dan gue menutuskan untuk nego ke petugas pelabuhan untuk menunggu Ami yang Jumatan. Kapal yang rencananya berangkat jam 13:30 bisa gue minta tunggu sampe adik gue itu selesai Jumatan. Gak cuma itu, petugas pelabuhan yang baik itu yang gue panggil Bang Marpaung, menyuruh gue beli makanan dulu untuk di kapal karena perjalanan cukup lama. Sekitar 13:45, Ami ngabarin gue kalo baru selesai Jumatan. Gue langsung menyuruh dia segera ke pelabuhan dan jam 14:00 kapal akhirnya berangkat.

Sekitar jam 16:00 kami menginjakkan kaki juga di pulau terbarat Indonesia, Pulau Weh. Dari pelabuhan kami naik angkutan umum ke Casanemo. Gak susah cari angkutan umum di pelabuhan dan gak susah juga menuju Casanemo karena semua orang tau Casanemo. Meskipun Sabang lagi rame-ramenya karena long weekend, tetapi jalanan sepi. Ada kejadian lucu di perjalanan menuju Casanemo. Jadi ceritanya, Ami nanya si abang supir apa benar Sabang itu singkatan dari santai sanget? Beliau bilang memang iya kalo Sabang itu singkatan dari santai banget karena kehidupan orang-orang di sini memang serba santai, ditambah suasananya yang memang dekat pantai makin membuat orang senang untuk bersantai-santai.  Gak lama dari pertanyaan itu tercetus, muncul gerombolan kambing yang menyebrang jalan. Gak disangka-sangka, si abang itu gak berenti bahkan mengklakson aja gak, Si abang itu malah santai aja jalan terus dan nabrak salah satu kambing. Gue berempat kicep hahaha. Lalu Ami nanya memang gak jadi masalah itu nabrak kambing gitu aja? Dan jawaban si abang itu adalah: Ah ngalangin jalan aja! Santai ajalah kalo di sini, Dek. Luar biasa, bener-bener santai banget! HAHAHA.


Jam 16:30 kami sampe di Casanemo, setelah menyelesaikan pembayaran kami diantar ke kamar. Gue agak kaget ternyata kamar kami diupgrade oleh Bu Balqis tanpa charge tambahan, dari Family Room ke Studio. Terbaik! Bagaimana cerita bermalam di Casanemo? Nanti akan gue post terpisah. Setelah unpacking, kami langsung ganti baju dan turun ke private beachnya Casanemo. Air laut lagi pasang tapi tetep aja gak menyurutkan niat gue buat main air haha. Namanya juga sakaw pantai, jadi begitu ngeliat pantai langsung deh excited. Di pinggir pantai Casanemo juga ada restoran. Surga banget deh santai-santai di restorannya yang langsung menghadap laut gini. Sayang sekali Casanemo gak menghadap barat jadi kami gak bisa menikmati sunset.


  
 Kami cabut dari restoran setelah makan malam, sekitar jam 20:00. Makin malam makin rame karena ada live music dan barbeque. Karena capek dari pagi kami udah stand by di bandara, seharian keliling Aceh, dan besok kami mau keliling Sabang, jam 21:30 kami tidur. See you on next post!

Tagged: , , , , , , ,

8 thoughts on “TRAVEL: Aceh-Sabang Trip Part 1

  1. Miftaahul J April 2, 2016 at 10:30 PM Reply

    Asik bangeet Kak Icaaa! Maulah kapan-kapan ke sabang dan aceh jugaa! Hhehe, ditunggu post selanjutnya!

  2. Nurul Lubis April 3, 2016 at 12:25 AM Reply

    Sabang memang selalu mempesona. Saya selalu rindu ingin kembali ke sana..

    • Khairunnisa Siregar April 3, 2016 at 9:17 AM Reply

      Setuju! Gampang banget buat jatuh cinta sama Sabang, apalagi buat rindunya.

  3. Arima Zeoo April 3, 2016 at 5:54 AM Reply

    kaica jalan jalan teruuus, enaaak. nanti kalo aku udah punya banyak duit pengen kesana, palagi ke pulau weh nya.. hmmm🙂

    • Khairunnisa Siregar April 3, 2016 at 9:18 AM Reply

      Amiin dibilang jalan terus haha. Tiati ya kalo ke Pulau Weh, nanti gak mau pulang

  4. Arima Zeoo April 3, 2016 at 5:59 AM Reply

    kaica jalan jalan mulu.. seru aaah. pengen kesana juga ntar kalo udah punya banyak duit

  5. […] yang gue ceritakan di sini, kalo sebenernya penginapan tujuan utama gue di Sabang adalah Iboih Inn. Secara Iboih Inn rame […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: