TRAVEL: Aceh-Sabang Trip Part 2

Seperti setiap trip, gue selalu bisa bangun pagi tanpa alarm. Gue bangun jam 06:00 setelah semalam gue tidur kurang nyenyak karena hujan lebat ditambah mati listrik. Agak parno juga sih waktu sadar lagi di Pulau Weh setelah inget Aceh pernah dilanda tsunami ditambah juga malam itu petirnya gak nyantai banget. Pagi itu gue langsung keluar kamar dan ternyata jam 06:00 di Sabang masih gelap banget kek jam 04:00 hahaha ya wajar sih namanya juga daerah terbarat. Gue bangunin adik-adik gue dan kami siap-siap karena jam 10, mobil rental yang dicarikan Bu Balqis untuk kami akan menjemput.

Selesai mandi dan siap-siap, kami turun ke restoran untuk sarapan. Di restoran ada menu buffet yang bisa kita nikmati seharga Rp 50.000. Menunya tidak terlalu banyak tapi cukup lengkap mulai dari nasi gurih berserta lauk, roti-rotian, cereal, buah-buahan, goreng-gorengan dan berbagai minuman seperti kopi, susu, teh, teh tarik, dan air putih.  Pagi itu cuaca cukup cerah, setelah kenyang kami kembali ke pantai sebentar untuk foto-foto sembari menunggu dijemput. Jam 10 tepat kami dijemput oleh Bang Muklis dan kami memulai keliling Sabang.


Waktu kami meninggalkan Casanemo hujan turun cukup lebat. Beruntung hujan turun tidak terlalu lama walaupun cuaca agak mendung. Bang Muklis ini orangnya baik, ramah, helpful, dan informatif. Beliau orang Sabang asli dan tau banget tentang Sabang. Beliau banyak cerita tentang Sabang dan seperti Bang Edi, gue tanyakan pengalaman saat Tsunami Aceh. Waktu Tsunami, beliau lagi berada di Banda Aceh sama teman-temannya. Memang belum ajal, saat itu beliau lagi di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Begitu air naik beliau yang lagi ada di dalam mobil langsung turun dan naik ke Masjid Raya. Denger cerita tentang Tsunami lagi-lagi gue merinding. Gak kebayang banget ngerinya kek apaan.

Tujuan pertama kami adalah Benteng Jepang. Benteng Jepang ini merupakan peninggalan Jepang saat menduduki Indonesia. Benteng ini menghadap langsung ke Samudera Hindia, tujuannya jelas menghadang musuh yang datang dari arah Samudera Hindia. Pemandangan dari atas benteng benar-benar luar biasa. Kita bisa melihat langsung Samudera Hindia yang luas, menengok ke belakang ada Pantai Anoi Itam yang sekilas terlihat seperti pemandangan dari Bukit Malimbu di Lombok. 

  
Turun dari Benteng Jepang, kami menuju Pantai Anoi Itam. Karena gue memang kurang suka pantai pasir hitam, jadi kami tidak berlama-lama di sini. Pantai-pantai di Sabang ini mayoritas berpasir putih dan Pantai Anoi Itam ini satu-satunya pantai berpasir hitam.


Kami lanjut menuju daerah terkenalnya Sabang: Iboih! Di perjalanan menuju Iboih kami berhenti di Puncak Geurette. Dari sini terlihat jelas Pelabuhan Balohan. Ini Sabang tapi rasa Lombok! Kami gak lama di Puncak Geurette lalu kami kembali melanjutkan perjalanan ke Iboih.


 Agenda kami di Iboih ya apalagi kalau bukan snorkeling. Sebagai orang yang suka sekali dengan pantai dan laut, sebisa mungkin gue menikmati taman bawah laut laut yang gue datangi. Iboih terkenal karena keindahan pantai dan taman bawah lautnya, tidak cuma itu kita juga bisa menyebrang ke Pulau Rubiah yang tidak jauh dari pantai Iboih. Jam 12:00 kami sampai di Iboih dan bersiap-siap untuk snorkeling. Harga sewa alat snorkeling satu set Rp 40.000, karena mata gue min 2, jadi gue menyewa goggle dengan lensa min 2 seharga Rp 80.000. Jika ingin menyebrang ke Pulau Rubiah, kita juga bisa menyewa kapal seharga Rp 100.000 untuk perjalanan pulang pergi. Cukup terjangkau kan.

 Siang itu Pulau Rubiah mendung dan lagi rame-ramenya. Sebenarnya di Pulau Rubiah ini gak perlu berenang ke tengah untuk menikmati pemandangan bawah laut yang indah, tapi akan lebih bagus lagi jika kita ke tengah. Karena lagi rame-ramenya, sepanjang bibir pantai Pulau Rubiah isinya orang-orang snorkeling. Gue, Ami, dan Dinda langsung berenang ke tengah dari dermaga. Di tengah tentu aja pemandangannya lebih bagus dan sepi. Karang-karang cukup bagus tetapi gak sewow di Gili Trawangan. Ikan-ikannya sih yang lebih bagus, variatif, dan banyak. Gemes deh.


 Jam 15:00 kami naik dan siap-siap menuju tujuan selanjutnya: Tugu 0 Kilometer Indonesia. Ke Sabang tanpa ke sini rasanya pasti ada yang kurang. Sebenarnya titik terbarat Indonesia bukan di sini, tapi di Pulau Rondo. Pulau Rondo sendiri berada sekitar 4 jam dari Pulau Weh dan gak berpenghuni, di sana cuma ada tentara-tentara yang bertuga menjaga daerah perbatasan Indonesia. Karena susahnya akses menuju Pulau Rondo, jadilah pemerintah memutuskan Pulau Weh sebagai titik terbarat Indonesia. Waktu gue ke sana, Tugu 0 Kilometer Indonesia lagi direnovasi dan estimasi selesai di Desember 2016. Sayang banget, padahal gue pengen banget naik ke atas tugunya. Tapi seenggaknya satu bucketlist gue kecoret buat berada di Ujung Barat Indonesia. Mungkin memang harus balik ke sini buat naik atas tugunya. Di sini gue dan Ami bikin sertifikat 0 Kilometer Indonesia seharga Rp 30.000. Di sini gue akhirnya mencoba Rujak Aceh. Isinya sebenernya gak beda jauh sama rujak biasa, berupa potongan buah tetapi yang bikin unik adalah bumbunya dan tambahan buah rumbia dan buah batok. Otentik banget rasanya. Sebenarnya gue mau nunggu sunset di sini, tetapi mengingat kami belum makan siang dan sunset di Sabang jam 19:00 akhirnya kami kembali ke pusat kota Sabang.


  
Di perjalanan pulang Bang Muklis membawa kami ke Danau Aneuk Laot. Danau ini sebenarnya bukan tempat wisata karena danau ini satu-satunya sumber air tawar di pulau ini. Selain Danau Aneuk Laot, kami juga sempat berfoto di tugu I Love Sabang.


 Menjelang sore kami sampai di Taman Kuliner Sabang. Lokasinya bagus, di pinggir pantai. Mengikuti prinsip gue setiap traveling harus mencoba makanan daerah sana, akhirnya gue memesan Sate Gurita Saos Padang dan Ayam Tangkap. Sate Gurita ini rasanya enak, agak mirip ayam tetapi lebih kenyal dan ditambah saos padang rasanya makin mantap. Sebenarnya Sate Gurita disajikan dalam dua pilihan saos: Saos Kacang dan Saos Padang. Jangan terlalu banyak makan Sate Gurita ya, karena gurita memiliki kolesterol tinggi. Ayam Tangkap menjadi menu selanjutnya yang gue pesan di sni. Ayam Tangkap ini merupakan seporsi ayam goreng yang dipotong-potong dimasak bersama daun pandan dan daun salam dan disajikan dengan sambel kecap. Jangan tanya rasanya, enak banget! Gue memang suka banget ayam goreng makin jatuh cintalah sama Ayam Tangkap ini.


 Setelah makan enak dan kenyang, kami kembali diantar ke Casanemo oleh Bang Muklis. Di perjalanan pulang, kami melewati Tugu Kembar. Meski tugu ini berdiri tegak sendirian, ternyata dinamakan Tugu Kembar karena memang memiliki kembaran di Merauke. Nextlah ya gue ke ujung timur Indonesia itu. Semoga bisa tahun ini juga deh ya haha. Jam 19:00 kami sampai kembali di Casanemo, bersih-bersih, makan malam, dan packing karena besok pagi kami harus kembali ke Aceh. Agak berat sebenarnya packing, gue udah jatuh cinta sama pulau ini. Every part of this island dangerously beautiful.

 

 

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan

 

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

3 thoughts on “TRAVEL: Aceh-Sabang Trip Part 2

  1. febridwicahya April 24, 2016 at 10:41 PM Reply

    Aaakh, dari dulu pengen ke nol kilometernya Endonesia :’) kece itu tempatnya mba :’)

    • Khairunnisa Siregar April 27, 2016 at 10:44 PM Reply

      Iya tapi sayang aja tugunya masih direnov sampe akhir 2016. Sempetin ke sanalah kalo lagi di Sabang.

      • febridwicahya April 30, 2016 at 10:49 PM

        Heheh iya Mbak🙂 suatu saat nanti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: