Category Archives: Holiday

TRAVEL: Sumbawa

Setelah dipertemukan di Raja Ampat Mei 2016 dan ke Nusa Penida di Agustus, gue dan geng R4 kembali memutuskan traveling bareng lagi. Tujuan kami kali ini adalah Sumbawa. Kenapa Sumbawa? Gue sejujurnya juga gak tau kenapa tetiba kami sepakat ke Sumbawa hahaha. Jadi, waktu itu waktu libur 17 Agustusan kami ketemuan untuk copy foto di Penida dan kami iseng liat tanggal merah selanjutnya ada kapan lagi sih. Lalu cek tiket ke Sumbawa, Lombok sih lebih tepatnya, dan akhirnya kami book flight lagi-lagi dengan impulsifnya. Kak Netty yang akhirnya mengatur itin dan akhirnya kami ke Sumbawa lewat Lombok dengan jalur laut.

Hampir di setiap trip kami ada dramanya, begitupun dengan trip kali ini. Tepat seminggu sebelum kami berangkat, Kak Bre ngasih kabar kalo dese terancam batal karena cutinya belom diapprove. Kak Bre ini memang hobi banget dadakan makanya gue suka ledekin dese kek tukang tahu bulat haha dan benar aja, H-3 dese baru ngabarin kalo cutinya approved.

Hari itu, Jumat tanggal 9 Desember kami tiba di Bandara International Lombok. Kami langsung menuju ke Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Gue yang memang pelor gak butuh waktu lama langsung tidur aja sepanjang perjalanan dan begitu bangun udah sampe. Kami naik ferry dari Pelabuhan Kayangan menuju Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa Barat. Sebelumnya buat yang belum tau, Sumbawa beda dengan Sumba. Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, sedangkan Sumba di Nusa Tenggara Timur yang terkenal dengan Nihiwatu Resort yang dalam dua tahun terakhir jadi The Best Hotel in The World. Bangga dong jadi orang Indonesia. Continue reading

TRAVEL: Via Ferrata Gunung Parang

Hampir setahun, akhirnya gue baru menulis post tentang Via Ferrata Gunung Parang ini. Gue tau aktivitas ini dari Ci Agnes, teman trip gue waktu ke Derawan tahun lalu. Via Ferrata yang berasal dari Bahasa Italia yang memiliki arti "jalur besi" adalah cara pendakian dengan meniti tangga baja yang ditanam di sepanjang tebing. Sekilas memang mirip dengan Rock Climbing, tetapi beda karena sudah ada tangga bajanya. Lebih gampang dong ya udah ada jalurnya? Siapa bilang! Hahahaha.

Jadi, Gunung Parang yang terletak di Purwakarta ini masih menjadi satu-satunya lokasi Via Ferrata di Indonesia. Via Ferrata ini sudah sangat populer di Eropa. Karena terlihat tidak terlalu susah, gue jadi tertarik untuk mencoba. Gue sendiri menggunakan Skywalker sebagai travel operator Via Ferrata ini. Ketinggian yang akan kita tempuh juga bisa dipilih: 150 M dan 300 M. Ketinggian 150 M normalnya ditempuh dalam 2 jam dan bisa langsung turun dengan teknik rappeling di hari yang sama. Karena gue sotoy dan sok-sok mau menchallenge diri sendiri, akhirnya gue memutuskan untuk memilih ketinggian 300 M dan camping semalam di atas Gunung Parang.

Continue reading

TRAVEL: Weekend Getaway To Nusa Penida

Actually, it almost a year since this weekend getaway happened and now I decide to write a post about it. Jadi ceritanya setelah bertemu dengan kakak-kakak dan abang-abang di Raja Ampat bulan Mei 2016, gue punya travelmate baru nih. Lebih impulsif dari Maya pula hahaha. Kenapa? Jadi ceritanya waktu itu kami memutuskan untuk kumpul-kumpul aja sekalian copy foto di Raja Ampat, entahlah siapa yang mulai akhirnya kami memutuskan jalan-jalan bareng lagi setelah lebaran, tepatnya ke Nusa Penida bulan Agustus 2016. Karena gak ada tanggal merah, akhirnya jadilah ke Nusa Penida ini sebagai weekend getaway aja. Gilanya, saat itu juga kami book tiket ke Denpasar. Bener-bener impulsif kan hahaha.

Jumat malam (5/8), kami semua kumpul di Soekarno Hatta International Airport. Kali ini sih kami gak full team, cuma berenam. Pesawat menuju Denpasar delay, harusnya kami jam 21:00 take off akhirnya jam 22:00 take off dan sampai di Denpasar tentu saja sudah ganti hari. Kami langsung menuju hotel dan tidur sekitar 3 jam. Jam 05:00 kami menuju Sanur, karena kami akan menyebrang ke Nusa Penida lewat Sanur.


Kami naik fast boat dari Sanur sekitar jam 07:00 menuju Nusa Penida dengan waktu tempuh selama 45 menit. Sekitar jam 08:00 kami sampai di Nusa Penida dan langsung menuju hotel kami, Ring Sameton Inn. Setelah check in dan siap-siap, hari ini kami memutuskan untuk berkeliling Nusa Penida dulu tanpa snorkeling.  Continue reading

TRAVEL: Jika Ica Pergi ke Hong Kong

Setelah tahun 2016 kemarin gue hanya melangkahkan kaki di bumi Nusantara, tahun ini gue memasukkan beberapa negara di bucketlist gue dan Hongkong menjadi salah satu destinasi dalam list tersebut. Sejujurnya, bukan tahun ini aja Hong Kong masuk list gue tetapi karena satu dan lain hal akhirnya plesiran ke Hong Kong di tahun-tahun sebelumnya tertunda. Jadi, tahun ini harusnya Hong Kong udah bisa dicoret dari bucketlist.

Kenapa sih gue mau banget ke Hongkong? Gak tau kenapa ya gue penasaran banget sama negara ini. Selain karena aksesnya cukup mudah dari Jakarta dan waktu tempuh yang gak lama, ke Hongkong pun gak perlu paspor. Satu sisi gue melihat Hong Kong adalah negara modern dengan 1.223 gedung pencakar langit yang megah tapi di sisi lain Hong Kong juga negara dengan warisan budaya yang gak bisa dipandang sebelah mata. Kedua sisi yang sangat berlawanan itu sangat menarik buat gue dan gak heran juga kalo Hong Kong dibilang tempat pertemuan timur dan barat, ya karena terletak di Asia dan kental dengan kebudayaan Tiongkok tetapi karena sempat menjadi jajahan Inggris jadi terpengaruh Barat. Memang ada apa di Hong Kong? Banyak! Mau apa juga ada mulai dari city tour, wisata kuliner, wisata belanja, wisata alam, hingga wisata budaya semua bisa dilakukan di Hong Kong. Jadi kalo gue ke Hong Kong gue mau ke mana?

  • Hongkong Disneyland

Taken from here

Taken from here

Sebagai pecinta kartun-kartun dari Walt Disney, mengunjungi destinasi ini adalah kewajiban buat gue. Meski gue pecinta Disney, tapi sejujurnya gue belum pernah ke Disneyland. Hong Kong Disneyland sendiri adalah Disneyland kedua di Asia dan akan menjadi Disneyland pertama gue. Dengan luas sekitar 28 hektar satu hari adalah waktu yang ideal untuk mengunjungi themepark ini. Continue reading

And Then I Met You, Not Your Mother

Taken from here

Taken from here

Seperti tahun-tahun sebelumnya, gue selalu bikin resolusi menjelang pergantian tahun. Di Desember 2015 itu gue menetapkan bahwa resolusi tahun 2016 gue harus bisa sampai ke ujung barat dan timur Indonesia sekaligus, Sabang dan Raja Ampat. Gue terlihat sangat ambisius buat mengeksekusi resolusi gue itu, mengingat gue belom punya jatah cuti dan nominal tabungan yang harus gue siapkan untuk destinasi-destinasi itu. Sejujurnya gue masih bingung, Raja Ampat atau Labuan Bajo. Beberapa hari itu gue bolak-balik cek web GA memastikan jam penerbangan ke Raja Ampat dan Labuan Bajo di tanggal yang gue pilih. Akhirnya, keputusan gue sudah bulat. Gue ke Sabang di long weekend bulan Maret dan Raja Ampat di long weekend  bulan Mei. Gue berpikir Raja Ampat harus di bulan Mei karena libur lebih lama sehingga gue yang gak punya cuti ini tetap bisa agak berlama-lama di Raja Ampat. Gak mungkin kan gue udah jauh-jauh ke Sorong tapi cuma 3 hari. Kalender sudah ditandai, tiket sudah di tangan, jadi yang harus gue lakukan selanjutnya adalah gue harus lebih banyak menabung untuk biaya gue ke dua destinasi itu.

Gue berencana ke Sabang dengan keluarga gue, tetapi satu bulan sebelumnya rencana berubah. Akhirnya gue ke Sabang hanya dengan adik-adik gue. Bagaimana dengan Raja Ampat? Sampai bulan Maret gue masih belum tau mau pergi sama siapa. Maya, yang biasa ke mana-mana sama gue gak bisa ngetrip dulu sampai 2017 karena ada sesuatu hal yang harus diprioritaskan. Gak dapet teman ke Raja Ampat sampe bulan April, apa gue menyerah gitu aja? Tentu gak dong. Ica always get what Ica wants, if it’s not today maybe next week, next month, or next year but Ica always get what Ica wants. Jadi apapun yang terjadi selama gue punya tiket dan duit yang cukup gue harus berangkat.

Nyokap gue nanya juga akhirnya mau pergi sama siapa? Begitu gue jawab sendiri, nyokap gue sempat khawatir karena gue akan ke Sorong yang ada di ujung Indonesia dan gue di sana akan benar-benar sendiri karena bukan dalam rangka dinas seperti biasanya yang bakal ada orang kantor cabangnya hahaha. Sejujurnya gue ada perasaan takut, tapi ya masa gue gak jadi liat Wayag cuma karena gue takut sendirian. Di H-7, nyali gue sempet ciut seciut-ciutnya. Gue jadi takut sendirian ke sana. Tiap malem gue gak bisa tidur dan pikiran untuk batal berangkat sempat dateng beberapa kali selama seminggu itu, cuma langsung gue antepin karena gue pikir ini cuma ketakutan sementara aja. Continue reading

TRAVEL: Raja Ampat Part 2

Hari itu gue dibangunin Kak Netty jam 04.00 WIT. Begitu gue lihat hp ada sms pemberitahuan BMKG mengenai gempa bumi di 72 KM dari barat daya Raja Ampat. Ternyata ada beberapa line masuk juga dari teman-teman gue yang menanyakan kondisi gue begitu mereka tau gue lagi di Raja Ampat dan sempat ada gempa. Gue terlalu nyenyak sampe gak sadar ada gempa hahaha. Gue masih ngantuk banget, tapi mengingat hari ini mau ke mana gue langsung melek dan bersiap-siap.

Jam 05.00 kami semua siap dan menuju dermaga karena kapal sudah ada di sana. Jalanan ke arah dermaga masih gelap banget, gue gak tau deh waktu itu gue bareng siapa ke arah dermaga. Begitu gue liat sebelah ternyata si Bang Yaya. Agak awkward sih soalnya gue juga belom terlalu banyak ngomong sama dia. Liat kanan kiri ternyata cuma berdua, yawdalah gue ajak ngomong aja sok-sok nanya udah ke mana ajalah, biasanya sama siapa aja, dan akhirnya gue tau kalo Bang Yaya biasanya kalo pergi sama Kak Iyut melulu.  Continue reading

TRAVEL: Raja Ampat Part 1

Well, anyway it’s the highlight of my journey in 2016. Gue ngerasa berdosa banget kalo gak memposting  apapun tentang trip ini di 2016. Beberapa bulan ini gue hiatus, bukan mau gue tapi kondisilah yang membuat gue gak bisa sering-sering posting dan banyak banget postingan trip yang akhirnya kepending. Oke, prolognya gak usah panjang-panjang karena postingan ini sepertinya akan panjang.

Gue selalu menganggap semua trip gue istimewa karena setiap trip ada cerita dan keunikannya sendiri. Nah, kenapa trip kali ini gue bilang highlight? Jelaslah ini pertama kalinya gue ke tanah Papua seorang diri. Yes, this is my first solo trip! Selain karena ini solo trip pertama gue, tujuan gue kali ya Raja Ampat. Siapa sih yang gak mau ke sana? Ya mungkin ada aja yang gak mau ke sana tapi maksud gue, traveler-traveler mana sih yang gak pengen ke sana? Raja Ampat pasti ada di bucketlist thalassophile (orang-orang yang cinta banget sama laut) macem guelah. Mungkin semacam hajinya thalassophile hahaha. Karena gak ada yang bisa gue ajak walaupun gue berusaha mengajak beberapa orang yang gue anggap potensial, akhirnya gue nekat ke sana sendirian. Perasaan takut pasti ada tapi gue terlalu penasaran sampe rasa takut gue kalah. Gue udah janji sama diri gue sendiri kalo 4-8 Mei 2016 gue harus ada di Raja Ampat.

Hari itu, tanggal 3 Mei 2016 adalah hari keberangkatan gue ke Sorong. Gue udah siap dengan ransel gue dari pagi karena gue akan ke airport langsung pulang kantor. Jarak rumah gue ke airport sebenarnya dekat dan bisa ditempuh cuma dalam 15-20 menit, tapi gue takut macet makanya gue memutuskan untuk langsung berangkat dari kantor. Gue sampe airport jam skeitar jam 19:00 dan itu artinya gue terlalu cepat karena GA 650 yang akan membawa gue ke Makassar take off jam 21:00. Setelah check in, gue akhirnya muter-muter sebelum masuk boarding room. Jam 21:00 pesawat take off dan gue gak bisa tidur karena terlalu excited. Gue pun menonton film untuk mengisi waktu dan membunuh rasa bosan. Akhirnya, FA mengumumkan dalam waktu dekat pesawat akan landing, tentu saja gue senang. Tepat 00:30 WITA gue menginjakkan kaki di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Ini pertama kalinya gue menginjak tanah Sulawesi.  Continue reading