Category Archives: Thoughts

And Then I Met You, Not Your Mother

Taken from here

Taken from here

Seperti tahun-tahun sebelumnya, gue selalu bikin resolusi menjelang pergantian tahun. Di Desember 2015 itu gue menetapkan bahwa resolusi tahun 2016 gue harus bisa sampai ke ujung barat dan timur Indonesia sekaligus, Sabang dan Raja Ampat. Gue terlihat sangat ambisius buat mengeksekusi resolusi gue itu, mengingat gue belom punya jatah cuti dan nominal tabungan yang harus gue siapkan untuk destinasi-destinasi itu. Sejujurnya gue masih bingung, Raja Ampat atau Labuan Bajo. Beberapa hari itu gue bolak-balik cek web GA memastikan jam penerbangan ke Raja Ampat dan Labuan Bajo di tanggal yang gue pilih. Akhirnya, keputusan gue sudah bulat. Gue ke Sabang di long weekend bulan Maret dan Raja Ampat di long weekend  bulan Mei. Gue berpikir Raja Ampat harus di bulan Mei karena libur lebih lama sehingga gue yang gak punya cuti ini tetap bisa agak berlama-lama di Raja Ampat. Gak mungkin kan gue udah jauh-jauh ke Sorong tapi cuma 3 hari. Kalender sudah ditandai, tiket sudah di tangan, jadi yang harus gue lakukan selanjutnya adalah gue harus lebih banyak menabung untuk biaya gue ke dua destinasi itu.

Gue berencana ke Sabang dengan keluarga gue, tetapi satu bulan sebelumnya rencana berubah. Akhirnya gue ke Sabang hanya dengan adik-adik gue. Bagaimana dengan Raja Ampat? Sampai bulan Maret gue masih belum tau mau pergi sama siapa. Maya, yang biasa ke mana-mana sama gue gak bisa ngetrip dulu sampai 2017 karena ada sesuatu hal yang harus diprioritaskan. Gak dapet teman ke Raja Ampat sampe bulan April, apa gue menyerah gitu aja? Tentu gak dong. Ica always get what Ica wants, if it’s not today maybe next week, next month, or next year but Ica always get what Ica wants. Jadi apapun yang terjadi selama gue punya tiket dan duit yang cukup gue harus berangkat.

Nyokap gue nanya juga akhirnya mau pergi sama siapa? Begitu gue jawab sendiri, nyokap gue sempat khawatir karena gue akan ke Sorong yang ada di ujung Indonesia dan gue di sana akan benar-benar sendiri karena bukan dalam rangka dinas seperti biasanya yang bakal ada orang kantor cabangnya hahaha. Sejujurnya gue ada perasaan takut, tapi ya masa gue gak jadi liat Wayag cuma karena gue takut sendirian. Di H-7, nyali gue sempet ciut seciut-ciutnya. Gue jadi takut sendirian ke sana. Tiap malem gue gak bisa tidur dan pikiran untuk batal berangkat sempat dateng beberapa kali selama seminggu itu, cuma langsung gue antepin karena gue pikir ini cuma ketakutan sementara aja. Continue reading

Advertisements

Suprising 2016: Year End Review

Time flies. Today is the last day in 2016. What I have to say about my 2016 are suprising, marvelous, fabulous, and blessed. I still don’t have any idea what God brings to me in 2016, everything too good to be true for sure. And here are the highlights of my suprising 2016:

  • Work Life

Finally, gue bisa bertahan di kantor gue yang sekarang ini sampe satu tahun. Gue cukup nyaman di kantor yang sekarang ini, gue menikmati kerjaan gue yang sekarang walaupun kadang gue ada bosannya tapi menurut gue wajarlah. Departemen gue isinya 14 orang dan 11 orang terdiri dari perempuan-perempuan yang rata-rata seumuran. Seru, sih di kantor yang sekarang ini.

  • Traveling World

Gue selalu percaya kalo punya mimpi diiringi niat dan usaha yang kuat itu bisa bikin yang kita mimpiin itu jadi kenyataan dan itulah sering kejadian di gue. Semenjak beberapa tahun lalu gue selalu memasukkan “travel more” di resolusi gue setiap tahunnya dan Alhamdulillah gue menutup tahun selalu dengan destinasi-destinasi baru maupun lama dengan cerita-cerita seru. Kira-kira rekap tahun ini: Continue reading

Kenapa Harus Kuliah Rusia?

Bulan lalu, tepatnya tanggal 2 Juli, gue resmi jadi seorang Sarjana Humaniora. Ya, 2 Juli 2014 adalah hari sidang skripsi gue. Gue lulus dari Program Studi Rusia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dengan nilai yang sangat memuaskan.

Skripsi gue sendiri berjudul “Pengaruh Budaya Patriarki Terhadap Kekerasan di Dalam Rumah Tangga Terhadap Perempuan Masa Federasi Rusia: Sebuah Tinjauan Feminisme Marxis”. Pasti gak sedikit orang yang pernah gue temuin atau gue kenal reaksinya semacam kagum kalo tau gue kuliah di mana, tetapi begitu tau gue jurusan apa gak sedikit yang bertanya dengan bingung, kenapa masuk Rusia? Gak sampe di situ, sampe di interview pekerjaan pun gue selalu ditanya seperti itu. Kenapa gue memilih Prodi Rusia? Apa cuma karena UI-nya aja? Continue reading

Perihal Pengurangan Jam Kerja Perempuan

Harusnya hari ini gue mempost review-review yang mulai menumpuk, tapi karena kegundahan karena isu-isu yang dua hari ini bersliweran jadi gue putuskan untuk kembali mempending review-review itu. Buat yang belum tahu, dua hari ini ada sedikit kehebohan karena pernyataan Bapak Wapres yang mengusulkan pengurangan jam kerja perempuan. Kenapa heboh? Jadi Bapak Wapres berpendapat bahwa perempuan aktif bekerja itu kekurangan waktu untuk mendidik anak yang merupakan calon penerus bangsa, jadilah isu pengurangan jam kerja ini dikeluarkan.

Continue reading

Menjadi Perempuan: Bahkan Pakaiannyapun Diatur

Sebenarnya sih gue lagi gak berniat nulis apa-apa hari ini, tapi begitu buka Facebook adalah satu hal yang menggangu pikiran gue. Jadi, ada seseorang yang cukup gue kenal dengan baik memposting suatu gambar dan minta dijelaskan maksud dari gambar tersebut. Beberapa orang merespon dan tidak ada satupun yang menurut gue memberikan penjelasan yang seharusnya. Kebanyakan malah menjudge dan memojokkan.

1452467_588817901224154_8092673016114555852_n

Ini gambar yang gue maksud

Continue reading

Survival Guide to Deal with Break Up

Anjir judulnya sok berat banget. Harusnya gue melanjutkan postingan gue tentang Singapore Trip, tapi karena tiba-tiba seorang teman gue nanya di ask.fm: “What is the best way to deal with break up?” setelah gue menjawab gue jadi kepikiran buat bikin postingan haha. Ya ini sih based on my sotoy opinion aja. Anyway, ada beberapa hal yang gue tambah dari jawaban di ask.fm gue. So, in my sotoy opinion the best way to deal with break up are: Continue reading

Pilpres 2014: Pertarungan Sengit Antar Simpatisan

Actually, I really don’t wanna talk about the election at all. It made me sick. Fed up. But tonight I decide to write a little of my opinion about the election. I don’t talk about the candidates, I have no interesting in it haha.

Beneran gue udah muak banget dan pengen cepet-cepet deh tanggal 9 biar gak ada lagi omongan-omongan tentang Pilpres. Bukan gue apatis, tapi adalah beberapa hal yang bikin gue muak. Pertama, gue kerja di media jadi setiap hari setiap waktu semua tentang pilpres bersliweran di kantor gue. Tiap saat. Mau gak mau suka gak suka gue berhadapan dengan itu, in office hours of course. Kedua, di grup WhatsApp SMA gue pun omongannya pilpres dan pilihan-pilian mereka. Entah saling menjagokan pilihan masing-masing atau menjatuhkan capres lain. Asli muak banget kaya gak ada omongan lain. Ketiga, di manapun entah itu FB, Twitter, Path, atau social media manapun adaaaa aja yang ngomongin capres pilihan mereka atau kejelekan capres lain. Alasan kedua dan ketiga ini yang paling-paling bikin muak. Dan baru gue ketahui kalo salah satu grup blogger membuat peraturan melarang men-share postingan berkaitan dengan kampanye Pilpres 2014. Wajar sih, overrated banget.
Continue reading