CULINARY: Ichitan Yen Yen

Gue kan suka banget makanan pedas, hampir tiap harilah gue makan ada sambelnya. Gue bahkan bisa makan siang dengan menu favorit gue yang itu-itu aja hanya karena gue suka sambelnya. Cuma kan, kalo pas makan itu gak berasa tetapi aftertaste makanan pedes itu yang kadang suka gak enak. Biasanya gue abis makan pedas sih minum minuman manis yang dingin.

Nah, ternyata sekarang ada minuman manis terbaru dari Ichitan yang diklaim dapat mereduksi rasa pedas dari makanan yang kita makan. Ichitan sendiri adalah perusahaan RTD (ready to drink) terkemuka di Thailand yang memiliki keahlian dalam pengolahan organik teh hijau bebas kimia dan tentu aja sudah mendapat sertifikasi dari Departemen Pertanian Thailand. Di Indonesia sendiri Ichitan diproduksi oleh PT Ichi Tan Indonesia. Sebelum varian terbarunya ini, dua varian Ichitan yang sudah beredar di Indonesia adalah Ichitan Honey Lemon dan Ichitan Lychee. Continue reading

And Then I Met You, Not Your Mother

Taken from here

Taken from here

Seperti tahun-tahun sebelumnya, gue selalu bikin resolusi menjelang pergantian tahun. Di Desember 2015 itu gue menetapkan bahwa resolusi tahun 2016 gue harus bisa sampai ke ujung barat dan timur Indonesia sekaligus, Sabang dan Raja Ampat. Gue terlihat sangat ambisius buat mengeksekusi resolusi gue itu, mengingat gue belom punya jatah cuti dan nominal tabungan yang harus gue siapkan untuk destinasi-destinasi itu. Sejujurnya gue masih bingung, Raja Ampat atau Labuan Bajo. Beberapa hari itu gue bolak-balik cek web GA memastikan jam penerbangan ke Raja Ampat dan Labuan Bajo di tanggal yang gue pilih. Akhirnya, keputusan gue sudah bulat. Gue ke Sabang di long weekend bulan Maret dan Raja Ampat di long weekend  bulan Mei. Gue berpikir Raja Ampat harus di bulan Mei karena libur lebih lama sehingga gue yang gak punya cuti ini tetap bisa agak berlama-lama di Raja Ampat. Gak mungkin kan gue udah jauh-jauh ke Sorong tapi cuma 3 hari. Kalender sudah ditandai, tiket sudah di tangan, jadi yang harus gue lakukan selanjutnya adalah gue harus lebih banyak menabung untuk biaya gue ke dua destinasi itu.

Gue berencana ke Sabang dengan keluarga gue, tetapi satu bulan sebelumnya rencana berubah. Akhirnya gue ke Sabang hanya dengan adik-adik gue. Bagaimana dengan Raja Ampat? Sampai bulan Maret gue masih belum tau mau pergi sama siapa. Maya, yang biasa ke mana-mana sama gue gak bisa ngetrip dulu sampai 2017 karena ada sesuatu hal yang harus diprioritaskan. Gak dapet teman ke Raja Ampat sampe bulan April, apa gue menyerah gitu aja? Tentu gak dong. Ica always get what Ica wants, if it’s not today maybe next week, next month, or next year but Ica always get what Ica wants. Jadi apapun yang terjadi selama gue punya tiket dan duit yang cukup gue harus berangkat.

Nyokap gue nanya juga akhirnya mau pergi sama siapa? Begitu gue jawab sendiri, nyokap gue sempat khawatir karena gue akan ke Sorong yang ada di ujung Indonesia dan gue di sana akan benar-benar sendiri karena bukan dalam rangka dinas seperti biasanya yang bakal ada orang kantor cabangnya hahaha. Sejujurnya gue ada perasaan takut, tapi ya masa gue gak jadi liat Wayag cuma karena gue takut sendirian. Di H-7, nyali gue sempet ciut seciut-ciutnya. Gue jadi takut sendirian ke sana. Tiap malem gue gak bisa tidur dan pikiran untuk batal berangkat sempat dateng beberapa kali selama seminggu itu, cuma langsung gue antepin karena gue pikir ini cuma ketakutan sementara aja. Continue reading

TRAVEL: Raja Ampat Part 2

Hari itu gue dibangunin Kak Netty jam 04.00 WIT. Begitu gue lihat hp ada sms pemberitahuan BMKG mengenai gempa bumi di 72 KM dari barat daya Raja Ampat. Ternyata ada beberapa line masuk juga dari teman-teman gue yang menanyakan kondisi gue begitu mereka tau gue lagi di Raja Ampat dan sempat ada gempa. Gue terlalu nyenyak sampe gak sadar ada gempa hahaha. Gue masih ngantuk banget, tapi mengingat hari ini mau ke mana gue langsung melek dan bersiap-siap.

Jam 05.00 kami semua siap dan menuju dermaga karena kapal sudah ada di sana. Jalanan ke arah dermaga masih gelap banget, gue gak tau deh waktu itu gue bareng siapa ke arah dermaga. Begitu gue liat sebelah ternyata si Bang Yaya. Agak awkward sih soalnya gue juga belom terlalu banyak ngomong sama dia. Liat kanan kiri ternyata cuma berdua, yawdalah gue ajak ngomong aja sok-sok nanya udah ke mana ajalah, biasanya sama siapa aja, dan akhirnya gue tau kalo Bang Yaya biasanya kalo pergi sama Kak Iyut melulu.  Continue reading

Suprising 2016: Year End Review

Time flies. Today is the last day in 2016. What I have to say about my 2016 are suprising, marvelous, fabulous, and blessed. I still don’t have any idea what God brings to me in 2016, everything too good to be true for sure. And here are the highlights of my suprising 2016:

  • Work Life

Finally, gue bisa bertahan di kantor gue yang sekarang ini sampe satu tahun. Gue cukup nyaman di kantor yang sekarang ini, gue menikmati kerjaan gue yang sekarang walaupun kadang gue ada bosannya tapi menurut gue wajarlah. Departemen gue isinya 14 orang dan 11 orang terdiri dari perempuan-perempuan yang rata-rata seumuran. Seru, sih di kantor yang sekarang ini.

  • Traveling World

Gue selalu percaya kalo punya mimpi diiringi niat dan usaha yang kuat itu bisa bikin yang kita mimpiin itu jadi kenyataan dan itulah sering kejadian di gue. Semenjak beberapa tahun lalu gue selalu memasukkan “travel more” di resolusi gue setiap tahunnya dan Alhamdulillah gue menutup tahun selalu dengan destinasi-destinasi baru maupun lama dengan cerita-cerita seru. Kira-kira rekap tahun ini: Continue reading

TRAVEL: Raja Ampat Part 1

Well, anyway it’s the highlight of my journey in 2016. Gue ngerasa berdosa banget kalo gak memposting  apapun tentang trip ini di 2016. Beberapa bulan ini gue hiatus, bukan mau gue tapi kondisilah yang membuat gue gak bisa sering-sering posting dan banyak banget postingan trip yang akhirnya kepending. Oke, prolognya gak usah panjang-panjang karena postingan ini sepertinya akan panjang.

Gue selalu menganggap semua trip gue istimewa karena setiap trip ada cerita dan keunikannya sendiri. Nah, kenapa trip kali ini gue bilang highlight? Jelaslah ini pertama kalinya gue ke tanah Papua seorang diri. Yes, this is my first solo trip! Selain karena ini solo trip pertama gue, tujuan gue kali ya Raja Ampat. Siapa sih yang gak mau ke sana? Ya mungkin ada aja yang gak mau ke sana tapi maksud gue, traveler-traveler mana sih yang gak pengen ke sana? Raja Ampat pasti ada di bucketlist thalassophile (orang-orang yang cinta banget sama laut) macem guelah. Mungkin semacam hajinya thalassophile hahaha. Karena gak ada yang bisa gue ajak walaupun gue berusaha mengajak beberapa orang yang gue anggap potensial, akhirnya gue nekat ke sana sendirian. Perasaan takut pasti ada tapi gue terlalu penasaran sampe rasa takut gue kalah. Gue udah janji sama diri gue sendiri kalo 4-8 Mei 2016 gue harus ada di Raja Ampat.

Hari itu, tanggal 3 Mei 2016 adalah hari keberangkatan gue ke Sorong. Gue udah siap dengan ransel gue dari pagi karena gue akan ke airport langsung pulang kantor. Jarak rumah gue ke airport sebenarnya dekat dan bisa ditempuh cuma dalam 15-20 menit, tapi gue takut macet makanya gue memutuskan untuk langsung berangkat dari kantor. Gue sampe airport jam skeitar jam 19:00 dan itu artinya gue terlalu cepat karena GA 650 yang akan membawa gue ke Makassar take off jam 21:00. Setelah check in, gue akhirnya muter-muter sebelum masuk boarding room. Jam 21:00 pesawat take off dan gue gak bisa tidur karena terlalu excited. Gue pun menonton film untuk mengisi waktu dan membunuh rasa bosan. Akhirnya, FA mengumumkan dalam waktu dekat pesawat akan landing, tentu saja gue senang. Tepat 00:30 WITA gue menginjakkan kaki di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Ini pertama kalinya gue menginjak tanah Sulawesi.  Continue reading

TRAVEL: Kenapa Harus ke Gold Coast?

Wah, gak terasa ternyata udah November aja. Udah mau akhir tahun lagi, udah mau ganti tahun lagi, dan artinya udah mau liburan lagi! Memasuki bulan ke-11 ini, gue mencoba mereview kembali resolusi 2016 yang udah gue buat di penghujung 2015 kemarin. Apakah banyak yang tercapai atau banyak gagalnya haha. Selain mereview kembali resolusi tahun ini, gue udah mulai bersiap-siap membuat resolusi untuk 2017. Salah satu dari isi list resolusi yang akan gue buat tentu saja adalah rencana perjalanan. Setelah di 2016 gue udah mencoret beberapa tempat yang udah ada di bucket list dalam negeri, tahun depan gue maunya sih melakukan perjalanan dengan paspor lagi. Lalu, kira-kira nih ke mana tujuan gue selanjutnya? Gold Coast!

 

Gold Coast. Taken from here

Gold Coast. Taken from here

Terletak di Queensland, Gold Coast menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup terkenal di kalangan wisatawan yang melakukan kunjungan wisata ke Australia. Gold Coast memiliki keunikan sendiri, karena matahari menyinari kota ini hampir selama setahun penuh, lebih tepatnya sekitar 300 hari. Untuk orang yang tidak cocok di cuaca dingin seperti gue, Gold Coast tentu saja sangat menarik perhatian dan menurut gue Gold Coast adalah kota yang cocok untuk menikmati musim panas di Australia. Sesuai dengan tagline “Famous for Fun”, Gold Coast memang menjadi tempat yang tepat untuk bersenang-senang dengan berbagai pesona objek wisata yang dimilikinya. Kenapa sih harus liburan musim panas ke Gold Coast? Ada apa di Gold Coast?

Continue reading

TRAVEL: Derawan Trip Part 3

Setelah kemarin main air seharian, pagi ini kami juga akan kembali main air karena mau mengejar Manta. Gue tentu saja excited karena gue gagal liat Manta di Raja Ampat, jadilah gue agak ngarep di Derawan ketemu Manta. Setelah sarapan, kapal membawa kami ke Manta Point. Manta Point sendiri letaknya dekat Pulau Sangalaki dan membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai ke sana yang perjalanannya lagi-lagi gue isi dengan tidur hahaha.

Tiba-tiba seisi kapal heboh, gue sampe kebangun. Ternyata ada Manta yang terlihat, pantes pada heboh. Kak Vira gak tahan liat Manta keliaran gitu aja langsung ambil fin sama snorkle dan nyebur sendirian. Sayang banget, belum sempat kami semua turun Mantanya malah kabur. Akhirnya kami pindah ke spot lain demi memburu Manta. Arus di Manta Point ini cukup deras, kapal jadi goyang-goyang akhirnya gue jadi agak-agak pusing. Daripada makin pusing, lebih baik langsung nyebur ajalah.

Seperti yang udah gue sebutkan, arus di Manta Point ini cukup deras dan membuat gue keseret-seret agak jauh dari kapal tapi tetep aja gak nemu Mantanya. Lagi-lagi gue kecewa. Beberapa temen berhasil ketemu Manta, bahkan Tante Devi sampe balapan sama Manta. Mungkin gue memang harus bisa freedive biar bisa bener-bener ketemu Manta. Kurang lebih 1 jam kami snorkeling demi mengejar si Manta, akhirnya kami naik ke kapal karena Bang Riza muntah dan minta pulang. HAHAHAHAHA. Continue reading